Kegiatan 2 Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut, Bahasa Kelas 9 halaman 85

kkaktri ~ Pencarian Google Search : Jawaban Kegiatan 2 Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut, Bahasa Kelas 9 halaman 85 atau pertanyaan di Brainly yaitu Kegiatan 2 Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut, Bahasa Kelas 9 halaman 85 , berikut kkaktri kasih kunci jawaban soal Isi Kotak Uraian Berdasarkan Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut, Bahasa Kelas 9 halaman 85 tersebut yaitu soal Tugas Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut , Bahasa Indonesia kelas 9 itu merupakan cuplikan yang berada di soal aktivitas di buku paket bahasa Indonesia kelas 9 Semester 1 Bab 3  yang topik bahasan tentang Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut, Bahasa Kelas 9 halaman 85. adapun jawaban yang ada di blog ini adalah jawaban kaka yang digunakan untuk evaluasi adik-adik setelah adik-adik menjawab soal tersebut.
Kegiatan 2 Melanjutkan Cerpen Sepatu Butut, Bahasa Kelas 9 halaman 85

MelanjutkanCerpen
lanjutkan Cerpen "Sepatu Butut" ini secara bebas. Alur yang diputus adalah menuju bagian klimaks membuang sepatu butut atau tidak. Apa keputusannya dan bagaimana melakukannya? Selanjutnya tentukan bagaimana Cerita berakhir

Sepatu Butut
Cerpen Ely Chandra Perangin-angin

Entah sudah berapa kali aku mengatakan padanya untuk mengganti sepatu bututnya itu. Kalau sepatu itu masih layak pakai sih mungkin tidak apa-apa, tapi sepatu itu sudah kelihatan sangat kumal, jauh dari kategori layak pakai. Walaupun orangtua kami bukanlah orang yang kaya, tetapi kurasa mereka masih mampu membelikan Andi sebuah sepatu baru yang lebih layak pakai.

Entah mengapa pula, hanya aku yang selalu memperhatikan sepatu bututnya Andi. Sepatu butut itu begitu menggangu pandanganku. Orangtua kami tidak pernah protes kalau Andi menggenakan sepatu butut itu lagi.

Pagi ini kami akan berangkat sekolah, dan lagi-lagi sepatu butut itu lagi yang kuperhatikan. Tidak ada yang lain yang kuperhatikan dari Andi, aku jadi malas bila berjalan dengannya. Aku malu bila harus berjalan dengannya, seperti berjalan dengan seorang gembel.

Sepatu butut itu begitu mengganggu pikiranku Kenapa Andi tidak minta sepatu baru aja biar keren seperti teman-temanya, si Ivan dengan sepatu ketsnya, atau seperti Dodi dengan sepatu sportnya?

Di suatu malam, aku berfikir untuk menyingkirkan sepatu butut itu. Aku berencana membuangnya di hari Sabtu malam, karena kutahu ia akan mencucinya di hari Minggu. Jadi kalau di hari Minggu ia tidak menemukannya, masih ada kesempatan untuk membeli yang baru sehingga ia masih bisa masuk di hari Seninnya.

Untuk membuang sepatu butut tentu saja tidak memerlukan rencana yang rumit, cukup sederhana saja pasti aku bisa melakukannya, hanya tinggal menunggu Andi tidur di malam hari, dan kemudian aku tinggal menjalankan misinya. Hari yang kunantikan pun tiba, segera aku bersiap menjalankan misiku. Kulihat Andi sedang tidak ada di rumah.

.......................................................................................................Lanjutkan Cerita


Jawab

Versi 1

Dengan segera aku menemukan tempat Andi meletakkan sepatunya. Ketika tanganku bersiap-siap mengambilnya, hatiku mulai bimbang. Bagaimana nanti sikap Andi kalau tahu aku yang membuang sepatunya? Bagaimana kalau nanti ia marah dan ngambek tidak mau pergi ke sekolah. Semuanya berkecambuk dalam hatiku. Akhirnya kuurungkan niatku membuang sepatu butut itu. Aku tak berani mengambil resiko yang kupikir sangat berat itu.

Hari senin, kembali pandanganku tertuju pada sepatu Andi. Sepatu butut yang selalu menemanya kesekolah. Satu-satunya yang terlintas di pikiranku adalah sepatu itu telah menjadi sebagaian dari hidupnya, dan itu menjadi haknya tanpa seorangpun berhak mengambilnya. Toh nanti setelah tak layak pakai menurutnya, ia pasti meminta pada orangtua kami.

Versi 2
Aku segera keluar dari kamarku, kulihat jam dinding di tembok menunjukan pukul 20.00. Aku menghela nafas panjang, biasanya Andi bermain hingga pukul 22.00. Ayah membiarkan Andi bermain selarut itu karena mengetahui bahwa besok adalah hari Minggu, hari libur.

Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki menuju rak sepatu yang terletak tidak jauh dari kamarku. Di situlah semua sepatu di keluarga kami diletakkan, baik sepatu ayah, ibu, sepatuku dan sepatu Andi. Tidak berselang lama, aku sudah menemukan sepatu Andi. Dengan cepat, aku ambil sepasang sepatu itu.

Di luar dugaan, tiba-tiba pintu depan dibuka. Alangkah kagetnya aku melihat siapa yang membuka pintu itu. Andi!. Andi terlihat heran melihatku sedang memegang sepasang sepatu kesayangannya. Tertangkap basah, aku mengakui bahwa aku hendak membuang sepatu Andi.

Bukannya marah, Andi justru memeluk aku. Sebagi seorang adik, aku benar-benar merasakan pelukan itu begitu tulus. Kemudian, Andi mengajakku duduk. Ia bercerita mengapa tidak mau menggunakan sepatu lain. Sebenarnya, ia  sedang menabung dari uang saku yang diberikan Ayah setiap hari. Jika sudah terkumpul cukup banyak, ia hendak menggunakan uang tabungannya untuk membeli sepatu baru. Akhirnya sepatu Andi tidak jadi kubuang, tapi kuserahkan kepadanya yang kemudian disimpannya di lemari di dekat pintu masuk dapur.

0 Comments

Posting Komentar