Menyimpulkan Informasi dari dua teks tanggapan terhadap lukisan Affandi dan Novel Student Hidjo

Judul : Menyimpulkan Informasi dari dua teks tanggapan terhadap lukisan Affandi dan Novel Student Hidjo
Materi : Kelas 9 Semester 1 Bab IV
Sumber Soal : Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 9 Semester 1 Kurikulum 2013
halaman : 93
Jawaban : Alternatif jawaban dari admin kkatricahannel.info
Note : Bukan sekedar Contekan tetapi sebagai bahan evaluasi adikadik dalam mengerjakan soal tentang Menyimpulkan Informasi dari dua teks tanggapan terhadap lukisan Affandi dan Novel Student Hidjo dari buku paket kelas 9 tersebut.

Info Materi singkat :
Teks Tanggapan adalah teks yang berupa ungkapan pujian dan kritik seseorang terhadap sesuatu dengan mendeskripsikannya secara objektif dan santun.
Menyimpulkan Informasi dari dua teks tanggapan terhadap lukisan Affandi dan Novel Student Hidjo


Teks pertama Lukisan Affandi " Kebun Cengkeh"

    Sebuah karya seni kelas tinggi dari sang pelukis maestro Affandi, melukiskan sebuah pemandangan alam perkebunan cengkeh, area perkebunan berbukit yang masih alami tampak terlukis apa adanya dari alam, untuk menghidupkan suasana pada lukisan, dihadirkannya figur manusia sebagai objek pendukung, tetapi inti dari lukisan, yang menunjukkan adanya aktivitas kehidupan yang menyatu degan alam. Ekspresi goresan khas affandi terlihat unik, yang menjadikan lukisan ini istimewa.

        Seperti pada kebanyakan lukisan Affandi yang selalu menempatkan matahari sebagai bagian dari objek utama, tetapi dalam lukisan ini, penempatan matahari tampak unik, seolah sang pelukis mengambil perspektif posisi dibalik matahari. Tampak dalam lukisan matahri tidak di balik bukit, tetapi di atas bukit dan menutupi bukit. Keunikan ini mungkin hanya dimiliki oleh Affandi, sebagai cara sudut pandang dia dalam berekspresi, di mana kualitas imajinasinya sebagai seorang pelukis maestro ternama.

Teks kedua Novel Student Hidjo 

      Jika ditanyakan kepada siapa pun yang pernah mempelajari kesastraan Indonesia selama 30 tahun terakhir tentang siapa itu Marco kartodikromo, atau lebih Populer dikenal Mas Marco, mungkin tidak sampai seperseratus persen yang pernah mendengar namanya. Bukan suatu kesalahan jika Mas Marco tidak dikenal. Nama dar Karyanya seperti Student Hidjo memang tidak pernah disinggung ataupun dimasukkan ke dalam karya sastra.

      Student Hidjo pertama kali muncul tahun 1918 dalam cerita bersambung di harian Sinar Hindia. Setahun Kemudian, baru terbit dalam bentuk buku. Usia peredarannyatak lama, Karena disita oleh pemerintah kolonial. Buku-buku karya Mas Marco yang dikenal sebagai jurnalis sekaligus aktivis gerakan politik penentang kolonialisme Belanda , dipandang begitu membahayakan, ketakutan penguasa di kala itu bukan tak beralasan . karya karya Mas Marco terutama Student Hidjo berbeda dengan tema umumnya karya karya sastra sezaman yang “direstui” oleh pemerintah kolonial.

      Pada Masa peredaran novel, ada dualembaga penting dalam penyediaan bacaan bagi rakyat Hindia Belanda. Pertama komisiBacaan Rakyat, Commise voor de inlandsche School en Volkslecture,yang didirikan tahun 1908. Komisi ini banyak menerbitkan karya sastra terjemahan bertemakan romantisme eropa. Kedua, Balai Pustaka , 1917, menerbitkan karya-karya sastra dengan bahasa baku Melayu Tinggi seperti Azab dan Sengsara, 1920, karya Merari Siregar, disusul Siti Nurbaya, 1922, karya Marah Rusli

       Berbeda dengan tema sastra sang Induk semang Komisi Bacaan Rakyat, tema yang diangkat Balai Pustaka di awal pendirian adalah seputar kritik terhadap adat kuno, terutama Minangkabau . kisah – kisah seputar kawin paksa yang mendatangkan sengsara dan kehidupan seputar lingkaran hitam-putih tentang yang baik dan buruk secara etika.

    Karya  Student Hidjo menggambarkan secara plastis kehidupan kaum priyayi Jawa dengan kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh, seperti kemudahan menimba pendidikan. Suasana pergerakan, terutama Sarekat Islam, tempat para tokoh novel mencurahkan sebagian waktu dan kegiatan, menjadikan novel ini kental dengan politik . Bahkan, kisah cinta sepasang tokoh novel pun diwarnai dengan kegiatan politik.
      
    Kisah diawali dengan rencana orangtua Hidjo menyekolahkan ke Belanda. Ayah Hidjo, Raden Potronojo, berharap dengan Hidjo ke Belanda, dia bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sudah menjadi saudagar yang berhasil dan bisa menyamai gaya hidup kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak lantas kesetaraan status sosial diperoleh, khususnya di mata orang-orang yang dekat dengan gouvernement, pemerintah kolonial. Berbeda dengan sang ayah, sang ibu Raden Nganten Potronojo khawatir melepas anaknya ke negeri yang dinilai sarat "pergaulan" bebas.

     Pendidikan di Belanda ternyata membuka mata dan pikir seluas-luasnya. Pertama, yang dianggap Belanda ‘besar’ di hindia ternyata sangat indisch di Belanda metropolitan, terutama mereka yang pernah bekerja di Hindia, dalam selera makan dan minum. Gadis Belanda dan orang tua yang pernah bekerja di Hindia menaryh perhatian besar kepada pemuda Hindia. Kedua, yang angkuh di Hindia ternyata tidak berperan di Belanda.

     Hidjo sang kutu buku yang terkenal "dingin" dan mendapat julukan "pendito" sampai onzijdig, banci, akhirnya pun terlibat hubungan seksual di luar nikah dengan Betje, putri directeur salah satu maatschapij yang rumahnya ditumpangi Hidjo selama studi di Belanda. Pertentangan batin karena melakukan aib dan panggilan pulang ke Jawa akhirnya menguatkan Hidjo untuk memutuskan tali cinta pada Betje.

    Persoalan menjadi sedikit berliku ketika perjodohan dengan Raden Adjeng Biroe yang masih sanak keluarga, meskipun sesungguhnya Hidjo terpikat dengan Raden Adjeng Woengoe, putri Regent Jarak yang sangat cantik. Di akhir cerita, ketegangan mendapat penyelesaian. Kebebasan memilih dan bercinta diangkat ketika Hidjo tidak langsung setuju pada pilihan orangtuanya akan tetapi mencari idamannya.

  Rumus perjodohan berubah. Hidjo dijodohkan dan menikah dengan Woengoe, sementara Biroe dengan Raden Mas Wardojo kakak laki-laki Woengoe. Semua, baik yang menjodohkan dan yang dijodohkan, menerima dan bahagia. Betapa cerita perjodohan tidak selalu berakhir dengan tangis dan sengsara. Juga ditampilkan, bahwa mentalitas Nyai tidak selalu ada dalam diri inlander, yaitu ketika Woengoe menolak cinta Controleur Walter.

  Selain itu, pengalaman Hidjo di Negeri Belanda telah membuka matanya. Ia melihat bahwa di negerinya sendiri bangsa Belanda ternyata tidak "setinggi" yang ia bayangkan. Hidjo menikmati sedikit hiburan murah ketika dia bisa memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah tumpangan yang mustahil dilakukan di Hindia.

   Dua buku dengan versi berbeda diterbitkan  tahun 2000 berdasarkan naskah lama Student  Hidjo. Namun sayang, penyesuaian ejaan maupun  bahasa mengurangi cita rasa klasik roman  Student Hidjo. Perubahan terparah dilakukan  Penerbit Bentang Budaya sedemikian rupa  hingga mendekati pemerkosaan naskah. Secara  dokumentasi kedua versi tidak bisa digunakan  sebagai buku sumber, source book. Bentang Budaya merusak gaya Mas Marco karena bahasa  Hindia Belanda kala itu diusahakan sesuai dengan  bahasa Indonesia terkini.

   Sebagai salah satu contoh, dialog berikut  cukup menjelaskan persoalan tersebut. Di naskah  asli tertulis: ..."Meneer Djepris,” kata Controleur  kepada Sergeant jang hendak masoek sekolah  Militair itoe, waktoe dia maki-maki kepada  Djongos kapal orang Djawa, lantaran Djongos  itoe koerang tjepat melajani permintaannja itoe  DJEPRIS (hlm-111). Bentang Budaya mengubah  menjadi: "Meneer Djepris!” kata Controleur kepada  Sergeant yang hendak sekolah militer itu sewaktu  dia sedang memaki-maki kepada orang Jawa yang menjadi jongos kapal, lantaran jongos itu kurang  cepat melayaninya. (hlm 142-143).

    Namun, terlepas dari hal tersebut, upaya untuk memperkenalkan salah satu karya yang tidak hanya menarik. Akan tetapi, terasa begitu radikal pada zamannya dan patut dihargai. Sebagai pengarang, Marco Kartodikromo sangat pantas mendapat tempat dalam kanon kesastraan sebagai salah satu pendobrak dengan beberapa karya lainnya seperti ‘Matahariah” dan “Mata Gelap”.
Novel ini sebetulnya sudah membuka suatu soal bahwa kesastraan bukan sekedar penghibur, tetapi suatu wacana politik dan sosial yang mengemban tugas menembus ruang ruang publik. Pada gilirannya, Kesustraan adalah jalan menuju  pembebasan dari belenggu ketertindasan.
Sumber ; Nova Christina/litbang Kompas, 21 September 2002.

Menyimpulkan Informasi Isi Teks Tanggapan
Bagaimana cara menyimpulkan informasi dari dua teks tanggapan terhadap lukisan Affandi dan tentang novel Student Hidjo?


karya apakah yang ditanggapi?Lukisan Affandi
"Kebun Cengkeh"
Novel
Student Hidjo
Siapa yang menghasilkan karya tersebut?Yang menghasilkan karya tersebut adalah Affandi, seorang pelukis maestro terkenal.Yang menghasikan karya tersebut adalah Marco Kartodikromo, seorang jurnalis sekaligus aktivis gerakan politik penentang kolonialisme Belanda.
Siapa yang menanggapi?Yang menanggapi adalah seseorang yang mengagumi lukisan tersebut.Yang menanggapi adalah Nova Christina, Litbang Kompas
Bagaimana bentuk tanggapannya?(Lukisan Kebun Cengkeh) Bentuk tanggapannya berupa pujian.(Novel Student Hidjo) Bentul tanggapannya berupa kritikan.
Bagaimana Cara Menanggapinya?Cara menanggapinya dengan deskripsi dan penilaian karya Affandi dengan menggunakan bahasa yang santun.Cara menanggapinya dengan konteks, konteks pengarang dan karya-karyanya, deskripsi pengarang dan karya-karyanya, deskripsi karya, penilaian terhadap karya, dan penilaian terhadap penerbitan.

0 Comments

Posting Komentar