Widget HTML Atas

Tahun 1954 merupakan periode penting bagi perkembangan bahasa indonesia

Tahun 1954 merupakan periode penting bagi perkembangan bahasa indonesia karena Tahun 1954 Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan dari Semenanjung Malaya dan Singapura.

Sejarah bahasa Indonesia erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari Bahasa Melayu yang sejak dahulu digunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, namun juga hampir di seluruh Asia Tenggara. 


Indonesia adalah negara dengan aneka ragam budaya. Setiap daerah mempunyai budaya dan bahasa masing-masing. Meskipun berbeda-beda dengan banyak ragam bahasa daerah, bahasa nasional yang digunakan tetap bahasa Indonesia. Setiap bangsa memiliki bahasa yang berbeda-beda dengan ciri khas dan sejarah masing-masing. Begitu pula dengan bahasa Indonesia.

Perkembangan bahasa Indonesia juga melewati sejarah panjang sebelum bahasa Indonesia lahir dan menjadi bahasa persatuan. berikut ini kita akan menyimak pemaparan mengenai sejarah perkembangan bahasa Indonesia sebelum kemerdekaan yang bersumber dari buku Pembelajaran Bahasa Indonesia oleh Tadzkirah, S.Pd.,M.Pd. (2019: hlm 1-8).

Pada abad ke 15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi Bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa dan Semenanjung Malaya.
Pada akhir abad ke 19 pemerintah kolonial Hindia Belanda melihat bahwa bahasa Melayu tinggi dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi. Pada periode mulai terbentuk ‘bahasa Indonesia’ yang secara perlahan terpisah dari bahasa Melayu Riau-Johor.

Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta semakin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku dan antar kerajaan.

Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca di Nusantara. Bahasa Melayu merupakan bahasa penghubung antar etnis di seluruh Nusantara. Selain itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa transaksi atau bahasa perantara antara berbagai suku di Nusantara dengan pedagang asing dalam lingkup perdagangan internasional di kepulauan Nusantara.

Bahasa Melayu di Indonesia kemudian banyak digunakan sebagai lingua franca, namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu.  Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.